trustnews.id

Airlangga Memiliki Peluang Besar Memenangkan Pilpres 2024
Airlangga hartato

JAKARTA –  Pengamat Universitas Pamulang Syam Batubara mengatakan, peluang Airlangga Hartarto pada Pilpres 2024 mendatang sangat besar. 

Hal ini mengingat, konstelasi politik  pada saat itu akan berbeda dibanding  dengan dua atau tiga tahun lalu dan saat ini. 


Dua tahun mendatang orientasi pemilih akan beralih pada kemampuan figur dalam mengatasi masalah perekonomian. 

Hal ini mengingat selama kurun waktu setelah terjadinya Pandemi Covid-19, kondisi perekonomian nasional sangat tidak menggembirakan.


“Untuk itu dibutuhkan seorang figur yang mampu membangkitkan kondisi perekonomian nasional. Kemampuan itu ada pada Airlangga yang memang selama ini dikenal piawai dalam menangani masalah ekonomi. Apalagi posisinya yang saat ini menjabat Menteri Perekonomian,” ujarnya di Jakarta, Kamis (3/3/2022).

Apalagi menurut Dosen Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang ini, Airlangga dibesarkan oleh seorang ayah yang di masa pemerintahan Orde Baru ikut membangun perekonomian Indonesia dalam Kabinet Pembangunan yang dipimpin mantan Presiden Soeharto. Kemudian saat ini dia juga dipercaya oleh pemerintahan Jokowi untuk menjaga perekonomian nasional agar tetap stabil di tengah keterpurukan akibat pandemi.

“Jadi sudah sangat wajar apabila nantinya masyarakat banyak yang menginginkan pemimpin yang mampu mengatasi persoalan ekonomi yang mendera dunia termasuk Indonesia. Saya kira masyarakat sudah semakin cerdas dalam memilih siapa yang akan menjadi pemimpinnya pada 2024 mendatang. Tidak lagi akan memilih pemimpin yang hanya sekadar pintar menyampaikan jargon-jargon politik, tapi bagaimana mampu mengatasi kondisi perekonomian Indonesia,” tandasnya.

Untuk itu menurut Syam Batubara sangat tepat apabila survei yang dilakukan oleh Riset Citra Network Nasional (CNN) kembali menempatkan Partai Golkar di posisi pertama. Begitu juga Ketua Umum Airlangga Hartarto sebagai Top Of Mind.

Selain kapasitas Airlangga yang mumpuni untuk memimpin Indonesia pada 2024-2029 mendatang, dengan menempatkan Partai Golkar di posisi pertama tidak diragukan lagi. Karena Golkar merupakan gudangnya kader-kader nasional yang berkualitas pada semua lini pemerintahan.

“Partai Golkar mempunyai kualitas SDM yang sangat baik apabila dibanding partai yang lain. Sehingga Airlangga Hartarto dan Partai Golkar yang menurut survei CNN berada di posisi teratas tidak perlu diragukan,” katanya.

Sebelumnya Direktur Eksekutif CNN Dwi Harini Soejono MSc, menjelaskan, pihaknya menggelar riset untuk memperoleh informasi dan data sebagai basis analisis persoalan menggunakan metode field study. Hal itu untuk mengumpulkan data primer melalui wawancara mendalam (indepth interview) dengan institusi dan stakeholders yang relevan. Metode ini memiliki kelebihan pada kemampuan dalam menggali detail aspek partisipasi dan preferensi masyarakat dalam Pemilu 2024.
Hasil penelitian, bahwa faktor yang mempengaruhi masyarakat memberikan suara jika Pemilu legislatif 2024 digelar hari ini, sebanyak 4,7 persen menyatakan dipengaruhi oleh visi misi partai politik, dan 14,2 persen pemberian uang atau bingkisan lain, sedangkan 37,2 persen karena memiliki kesamaaan etnik dengan caleg dan capres, sebanyak 30,8 persen meyatakan karena dipengaruhi faktor memiliki kesamaan keyakinan agama/golongan kepercayaan dengan caleg dan sebanyak 13,1 persen disebabkan oleh faktor lain-lain.

Karakteristik informan (responden) terdiri 
aku usaha, dosen, mahasiswa, buruh, Ibu RT, sopir angkot/bus, wiraswastawan/pengusaha, dan petani.
Dalam penelitian ini 2.140 responden memiliki confidence level 95 persen dan confidence interval 2,12 persen yang diambil dari 1.070 kecamatan di 34 provinsi di Indonesia dengan memperhatikan keseimbangan jumlah pemilih di setiap kecamatan pada Pemilu 2019. Penelitian ini dilakukan sejak tanggal 22 Januari hingga 6 Februari 2022.
Kriteria capres yang diinginkan terekam dalam penelitiana ini yaitu sebanyak 87,8 persen menginginkan capres yang be visible, yakni kandidat bisa memiliki reputasi baik di mata pemilih bila ia mampu tampil di depan publik, menciptakan komunikasi dua arah dengan pemilih, familiar, dan bersahabat dengan publik.
Kemudian sebayak 89,4 persen masyarakat menginginkan capres yang be authentic, yakni reputasi positif yang dimiliki oleh seorang kandidat capres karena ia mampu mewujudkan harapan dari pemilih.

Reputasi positif yang dimiliki bukan terletak pada image yang dibuat-buat atau pencitraan tetapi terletak pada sikap dan tindakan. Ia bukan hanya seorang komunikator yang baik tetapi juga seorang pelaksana yang baik, dalam artian apa yang dijanjikan selalu ditepati dan kebijakan yang diambil selalu mempertimbangkan kepentingan banyak orang. Kemudian 89,6 persen menginginkan capres yang be consisten, yakni apa yang diucapkan selalu dilaksanakan. Dalam artian ia bukan hanya seorang yang pandai berbicara atau pandai berpidato tetapi dia juga seorang perancang sekaligus pelaksana program yang mempengaruhi kehidupan masyarakat menjadi lebih baik
Apabila pemilu presiden dilaksanakan hari ini (Top Of Mind) hasil temuan penelitian dengan pertanyaan siapakah tokoh yang Anda pilih jika “Pemilu Presiden Dilaksanakan Hari ini” maka peringkat pertama Airlangga Hartarto dipilih 21,8% responden, kedua Prabowo Subianto 15,3%, dan ketiga Ganjar Pranowo 8,1% responden.
Selanjutnya Anies Baswedan yakni 7,5%, Gatot Nurmantyo 6,9%, Puan Maharani 6,1%, Muhaimin Iskandar 2,8% , Agus Harimurti Yudhoyono 2,7%, Erick Thohir 2,1%, Sandiaga Uno 1,8%, dan terakhir yang tidak memilih 24,9% responden.
Dengan simulasi tertutup dengan kuesioner siapakah tokoh yang Anda pilih jika “Pemilu Presiden Dilaksanakan Hari Ini”, maka didapatkan hasil dengan peringkat pertama Airlangga Hartarto dipilih oleh 23,5% responden, kedua Prabowo Subianto 16,4%, dan Ganjar Pranowo 8,3%.

Selanjutnya Anies Baswedan 7,6%, Gatot Nurmantyo 7,7%, Puan Maharani 6,5%, Muhaimin Iskandar 3,3%, Agus Harimurti Yudhoyono 3,1% responden, Erick Thohir 2,2%, Sandiaga Uno 1,9%, dan terakhir yang tidak memilih 19,5% responden.
Alasan utama, mereka memilih Airlangga Hartarto karena Indonesia butuh keberlanjutan pembangunan yang sudah dijalankan Jokowi dan perbaikan ekonomi serta peningkatan kesejahteraan masyarakat untuk mengurangi angka kemiskinan akibat dampak Pandemi Covid-19 yang diperkirakan akan tetap memepengaruhi kinerja ekonomi nasional pasca-Jokowi.

Alasan utama mereka memilih Prabowo Subianto, pertama tegas berwibawa. Memilih Ganjar Pranowo karena Ganjar Pranowo sering bermedsos dalam menjalankan pemerintahan sebagai Gubernur Jateng.

Memilih Gatot Nurmantyo, dengan alasan menginginkan capres yang tidak terafiliasi pemerintahan Jokowi saat ini sebagai simbol antitesa dari pemerintahan yang sekarang 
Memilih Anies Baswedan dengan alasan menginginkan capres yang terafiliasi dengan Gerakan 212 dan dekat dengan FPI.
Memilih Puan Maharani dengan alasan kesamaan pilihan parpol dan dekat dengan PDI Perjuangan. Memilih Muhaimin Iskandar dengan alasan kedekatan dengan NU.
Memilih Agus Harimurti Yudhoyono dengan alasan sebagai pemilih SBY pada pemilu yang lalu.

Memilih Erick Thohir dengan alasan wajah dan namanya terpampang di ATM bank- bank BUMN. Memilih Sandiaga Uno dengan alasan didukung ijtima ulama untuk Pilpres 2024.

Dari hasil temuan penelitian tentang preferensi dan persepsi masyarakat jika pemilu digelar hari ini, Partai Golkar paling banyak dipilih sebagai Top of Mind dengan tingkat keterpilihan sebesar 14,9 persen, disusul PDI Perjuangan 14,8 persen, Gerindra 14,2 persen, Demokrat 4,2 persen, Nasdem 3,9 persen, PKS 3,2 persen, PKB 3,2 persen, PPP 1,2 persen, PAN 1,1 persen, Perindo 1,1 persen, PRIMA 1,1 persen, Partai Buruh 1,1 persen, Garuda 1 persen, PSI 0,7 persen, PBB 0,6 persen, Gelora 0,6 persen, Hanura 0,6 persen, Ummat 0,2 persen, dan partai lainnya tidak memilih alias NIL. Sedangkan yang tidak menjawab atau tidak memilih 30,8 persen.
Dari hasil temuan penelitian tentang preferensi dan persepsi masyarakat jika pemilu digelar hari dengan menggunakan pertanyaan tertutup pada 2.140 responden diberikan kertas kuesioner berisi nama partai politik dan diminta untuk memilih dan alasan memilihnya maka hasilnya dari  preferensi dan persepsi masyarakat menempatkan  Parati Golkar di tempat pertama dengan dipilih sebanyak 17,6 persen, kedua Partai Gerindra 16,8 persen, PDI Perjuangan 16,4 persen, Demokrat 7,2 persen, PKB 5,2 persen, PKS 5,2 persen, Nasdem 4,5 persen, PAN 2,1 persen, Perindo 2,1 persen, PPP 1,9 persen, PRIMA 1,7 persen, Partai Buruh 1,2 persen, Garuda 1,1 persen, PSI 0,8 persen, Gelora 0,7 persen, Hanura 0,6 persen, PBB 0,6 persen, Ummat 0,3 persen, dan partai lainnya NIL pilihan. Sedangkan yang tidak memilih 14,7 persen.