trustnews.id

Upaya Krakatau Daya Listrik Pangkas Emisi Karbon

TRUSTNEWS.ID,. - Kilas balik pada Juli 2020, sebuah seremoni pengguntingan pita peresmian Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Rooftop di plant perusahaannya di Kawasan Industri Krakatau Cilegon, Banten dengan kapasitas daya 102 kWp (Kilo Watt Peak), menandakan keberhasilan Krakatau Daya Listrik (KDL) mengimplementasikan Energi Baru Terbarukan untuk pertama kalinya.

Hal yang menarik. Pengoperasian PLTS Atap ini diketahui juga merupakan yang pertama di Kota Cilegon, sebagai wujud nyata penggunaan energi ramah lingkungan di Kota Baja.

Teknologi ini juga sebagai bukti komitmen KDL, anak usaha PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (PTKS) yang kemudian hari di akuisisi PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) pada Februari 2023, dalam mengembangkan bisnisnya ke bidang energi terbarukan. Dengan memanfaatkan area rooftop dari bangunan Mainstation 150 kV yang berada di dalam area PT KDL dengan luas area 864 m2.

Nandang Hariana, Direktur Utama Krakatau Daya Listrik, mengatakan, semula KDL merupakan salah satu divisi di bawah Direktorat Perencanaan PTKS. Saat itu, pabrik dan infrastruktur di kawasan industri baja terpadu membutuhkan pasokan listrik yang andal dari unit-unit independen. Untuk kebutuhan tersebut, PT KS membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berkapasitas 400 Megawatt (MW).

Pada 25 April 1995, Divisi PLTU 400 MW berubah status menjadi Unit Otonom PLTU 400 MW Krakatau Steel. Karena unit ini berpotensi berkembang menjadi perusahaan energi yang dihitung dari kapasitas pembangkit listrik sehingga pengelolaannya diatur terpisah.

Pemisahan ini sejalan dengan restrukturisasi yang dilakukan PT KS untuk seluruh unit otonomnya. Oleh karena itu, pada 28 Februari 1996, Unit Otonom PLTU 400 MW ditingkatkan statusnya menjadi Badan Usaha Mandiri dengan nama PT Krakatau Daya Listrik.

Demi menjaga kualitas dan keandalan ketersediaan energi konsumen di kawasan industri, PT KDL membangun Pembangkit Listrik Gas Uap (PLTGU) berkapasitas 120 MW yang telah beroperasi sejak April 2015. Dengan adanya PLTGU ini, maka PLTU tidak lagi dioperasikan.

Perkembangan kebijakan nasional terkait isu pemanasan global pun membuat PT KDL mulai bergerak ke bisnis energi baru dan terbarukan. Sebagai langkah awal, PT KDL membangun dan mengoperasikan PLTS Rooftop berkapasitas 102 kWp pada Juli 2020.

“Saya pikir pembangkit dengan bahan bakar fosil pasti akan berakhir. Nah, kalau kita tidak diversifikasi ya berhenti bisnis ini,” ujar Nandang Hariana kepada TrustNews.

“Kemudian saya pertimbangkan perkembangan isu global seperti polusi, perubahan iklim dan energi hijau. maka kami berpikir untuk mengembangkan energi baru terbarukan. Ini juga sejalan dengan visi pemerintah tahun 2025 dimana energi bauran harus mencapai 20 hingga 30 persen,” tambahnya.

“Dan kita mulai kembangkan energi baru terbarukan dengan membangun PLTS rooftop, mulai dari 100 kWp, 300 kWp, dan sekarang mencapai 900 kWp. Lokasi pembangunannya tersebar, ada yang dibangun di KDL, atap Krakatau Pipe Industries (KPI) dan juga Gedung Teknologi Krakatau Steel. Output-nya menghasilkan PLTS dan di-on grid ke jaringan kita karena PLTS hanya bisa memproduksi optimal selama 6 jam. Setelah diserap, maka di-on grid ke jaringan KDL untuk men-supply jaringan kami. Ini upaya untuk memaksimalkan sumber daya,” paparnya.

Adapun rencana bisnis KDL ke depan menurut Nandang adalah sebagai perusahaan penyedia energi listrik yang memiliki tiga fokus utama yaitu Pembangkitan Listrik, Jasa Ketenagalistrikan, dan Energi Baru Terbarukan.

Bila ditotal, KDL memiliki total kapasitas dari Combined Cycle Power Plant (CCPP) sebesar 120 MW terinterkoneksi dengan jaringan milik PLN berkapasitas 2×400 MVA yang memasok kebutuhan pelanggan industri, bisnis, dan perumahan. Sedangkan untuk kebutuhan sendiri, beberapa PLTS yang terpasang di atap mainstation sebesar 102 kWp dan beberapa lokasi lainnya menjadi sumber energi yang telah dimanfaatkan.

“Sekarang ada 3 pilar yakni electrical, services, dan renewable. Kedepan semoga bisa dijadikan unit bisnis KDL, sekarang baru jasa kelistrikan, jadi kedepan dua lainnya akan dibentuk unit bisnis juga,” ungkapnya.

“Kami juga memiliki anak perusahaan untuk dikembangkan. Kami mengakuisisi Krakatau Sarana Energi di 2022 yang berfokus dalam pengelolaan SPBU dan retail alat kelistrikan. Ketika di akuisisi, bisnisnya hanya SPBU namun kami kembangkan dengan membangun SPKLU sehingga arahnya untuk mengurangi emisi karbon. Sekarang sudah ada 8 SPKLU untuk melayani potensi mobil listrik ke depan,” paparnya.

Baginya, KDL berkomitmen untuk memberikan solusi dalam menyediakan energi listrik yang lebih ramah lingkungan, melalui berbagai inovasi.

“Kami ingin bisnis saling melengkapi, tidak hanya berfokus pada bisnis konvensional, namun juga bisa menyesuaikan dengan gaya hidup orang Nandang Hariana, Direktur Utama Krakatau Daya Listrik banyak,” pungkasnya.