trustnews.id

“Perjuangan dan Asa di Balik Kostum Roro Jonggrang Madiun”
Dok, Istimewa

 TRUSTNEWS.ID,. JAKARTA, 15 April 2023 - Nampaknya kostum Kartini menggambarkan sosok tangguh pejuang wanita. Uniknya, kali ini sosok itu datang dari balutan kostum bernuansa hijau yang kerap menjadi buah bibir legenda di Pulau Jawa, Roro Jonggrang. Ugik namanya, seorang perempuan penjual gorengan yang sempat viral pada waktu lalu. Tagar #ugikpenjualgorengan ramai memperlihatkan sosoknya lihai melenggok diiringi lagu dangdut sambil berjualan gorengan keliling kampung. Tidak lupa kostum fenomenalnya, kebaya Roro Jonggrang yang lengkap hingga riasan mahkota rambut. 

Rupanya ini kali pertama beliau menjejakan kaki di Batavia. Merupakan salah satu dari 14 juta Nasabah PNM Mekaar, Ugik terbilang istimewa. Kreatif dan gigih dalam berjualan, membawa Ugik untuk menghadiri undangan PNM dalam acara “Collab Ibu & Jurnalis Untuk Inspirasi Indonesia”. Didampingi Account Officer (AO) dari Cabang PNM Madiun, Ayu, akhirnya perempuan lincah itu mengelilingi Jakarta dengan wajah sumringah. Tidak kenal lelah, Ugik tetap on saat acara berlangsung di hari berikutnya. Pemalu ternyata bukan karakter yang tepat untuk menggambarkan beliau. Ugik tampil memperagakan lenggokan khasnya saat berjualan di depan awak media. Tidak ketinggalan kostum Roro Jonggrang andalannya yang ia kenakan sejak pagi tadi. Saat ditanyakan dalam Bahasa Jawa, “bu, enggak capek pakai hak tinggi?” Ugik tertawa dan tidak setuju, “saya tuh seneng banget! Pakai selop gini enggak kerasa capek!”

Setelah buka puasa bersama, perempuan paruh baya itu tidak dapat menyembunyikan wajah senangnya. Ugik duduk bersama Arief Mulyadi, Direktur Utama PT PNM, sembari melakukan dialog hangat. Arief cukup dikenal akan kedekatannya dengan para nasabah. Tidak jarang beliau mengundang secara personal para Nasabah PNM Mekaar, seperti Libra dari Bali untuk mengunjungi ruang kerjanya di kantor pusat.

“Sampai sekarang masih belum sangka saya bisa bertemu Pak Direktur, bapaknya juga kok baik sekali, senang sekali bersyukur sama Allah,” Ugik lagi-lagi memperlihatkan kepolosannya.

Sesampainya di tempat penginapan, beliau menyambut dengan senyuman khas dengan gaun merah jambunya. Ugik turun sambil membawa kresek berisikan perabotan riasnya. Berat hati, Tim PNM menyusul dengan tas ransel baru untuk Ugik. Senyumnya jadi tambah lebar.

Perjalanan ke Soekarno Hatta ternyata yang paling berat. Seketika langit di kawasan bandara agak mendung. Beberapa kali kami memastikan keadaannya. Khawatir karena beliau mabuk darat di perjalanan seperti dua hari lalu saat kami jemput di Halim. Sesekali kami sempat bercandakan karena Si Roro Jonggrang sampai menenggak 2 sachet obat anti mabuk perjalanan.

Mendekati Terminal Didapati wajahnya yang menempel ke jendela dengan isakan yang pelan. Sontak, Ayu menanyakan keadaan beliau. Tangisan Ugik kini tidak dapat disembunyikan lagi.

“Saya tuh terharu, saya tuh senang sekali. Saya bisa sampai ke Jakarta karena usaha saya selama ini. Orang-orang desa bisa percaya dengan Saya dan bangga Saya bisa sampai seperti ini,” jelas Ugik dalam Bahasa Jawa di tengah isakan haru.

Pelukannya erat sampai di Pintu Keberangkatan. Semuanya hanyut dalam tangisan perpisahan. Melambaikan tangan sembari Ugik yang tetap menyautkan, “terima kasih PNM!”

Wedjangan Roro Jonggrang hebat asal Madiun itu tidak pernah terlupakan. Kegigihan dan mental yang kuat selalu jadi prinsip utamanya dalam terus mengais rezeki. Ia tidak kenal lelah, rajin tersenyum dan selalu berhasil membuat siapapun di sekitarnya ikut terhibur. “Jamanku sebagai perempuan ndak semudah jamanmu sekarang, mbak,” ucapnya pelan. Terlalu banyak yang dapat petik dari sosok Ugik, malah kami, perempuan generasi sekarang, malu jika mudah menyerah dengan segala kemudahan ini. Tanpa kostum Kartini, dibalut riasan Roro Jonggrang, Ugik mampu membuktikan hebatnya asa dan kegigihan seorang perempuan.