trustnews.id

PLN Terapkan TMC Dan Optimalkan Pembangkit Listrik Berbahan Fosil Di Sulawesi
Dok, Istimewa

TRUSTNEWS.ID,. - Selain manajemen beban, PLN sudah menyiapkan sejumlah terobosan lain, sebagai upaya menyeimbangkan pasokan listrik di wilayah Angin Mamiri tersebut. Langkah tersebut diupayakan melalui penerapan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC), yang titik beratnya melalui pemulihan kapasitas air untuk pembangkit-pembangkit listrik berbasis air.

Ada beberapa Daerah Aliran Sunga (DAS) yang menjadi target untuk digunakan oleh sejumlah PLTA di wilayah Sulawesi untuk pemulihan kapasitas air ini, seperti DAS di wilayah Mamasa, Poso dan Malea. “Teknologi ini diharapkan bisa menurunkan hujan. Tapi keberhasilan pola ini masih sangat bergantung pada kondisi alam. Sebab berdasarkan kordinasi kami dengan pihak BMKG, jika tidak ada awan, sekalipun menerapkan teknologi modifikasi cuaca hujan tidak akan turun,” terang GM PLN UID Sulselrabar, Moch. Andy Adchaminoerdin kepada Trustnews.

Tujuan modifikasi cuaca umumnya untuk meningkatkan intensitas curah hujan di suatu tempat (rain enhancement) atau dapat juga digunakan untuk kondisi sebaliknya (rain reduction). Dalam konteks pemanasan global yang mengakibatkan terjadinya perubahan iklim, TMC menjadi salah satu solusi yang bisa diandalkan dalam mengurangi kerugian yang dapat ditimbulkan oleh bencana yang disebabkan oleh faktor iklim dan cuaca.

Selain mengandalkan TMC, PLN juga mengoptimalkan seluruh pembangkit yang mereka miliki, termasuk pembangkit berbahan baku fosil, seperti pembangkit listrik tenaga uap. “Saat ini semua beroperasi, tidak ada yang boleh dalam posisi pemeliharan,” tegas Andy. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menjaga sistem kelistrikan tidak berdampak luas. Meskipun begitu diakuinya, dengan menggunakan pembangkit listrik berbahan baku fosil biaya yang harus dikeluarkan oleh PLN tidak sedikit.

Kondisi Sistem Kelistrikan Sulawei Bagian Selatan saat ini sedikit terganggu. Beberapa wilayah mengalami manajemen beban berkala. Kondisi dipicu oleh kondisi cuaca yang sangat luar biasa ekstrem, sehingga mengganggu produksi energi yang berbasis air. Perlu diketahui pembangkit listrik tenaga air atau PLTA terbesar di Sistem Kelistrikan Sulbagsel salah satunya ada di Poso (IPP), sebesar 515 MW. Ada juga di Bakaru (PLN), Malea (IPP) dan juga ada Pembangkit Listrik Mini Hydro (PLTM) yang tersebar di sejumlah daerah dengan kapasistas mencapai 126 MW.

“Kalau kita total sebelumnya, mesin-mesin yang berbasis air ini bisa memproduksi hingga 850 MW. Karena kemarau berkepanjangan seperti ini, maka debit air kurang dan tidak bisa ditampung airnya. Kalau siang hari dari kondisi ini maksimum hanya bisa menghasilkan listrik sebanyak 200 MW. Bisa dibayangkan dari 850 MW hanya bisa memproduksi listrik 200 MW. Sebanyak 650 berkurang,” terang Andy.

Air ditahan pada posisi siang hari untuk membantu membangkitkan listrik pada malam hari. Kalau pada malam hari PLTA tersebut bisa memproduksi listrik 300 – 350 MW. Artinya, pada malam hari kapsistas listrik di Sulsel berkurang hingga 500 MW per hari.

“Kami menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat yang terdampak dan kami juga mengapresiasi atas dukungan yang diberikan, khususnya kepada para pelaku Industri Besar, jajaran Pemerintah Provinsi, jajaran Pemerintah Kota dan Kabupaten, DPRD Provinsi/Kota/ Kabupaten, jajaran TNI-Polri serta seluruh stakeholder yang sudah membantu PLN dalam melaksanakan berbagai upaya dalam memulihkan dan menjaga keandalan pasokan listrik,” tambah Andy lagi.