trustnews.id

Kabupaten Batang STRATEGI PERTUMBUHAN EKONOMI SETELAH KONTRAKSI
Sekretaris Daerah (Sekda) Batang Lani Dwi Rejeki

Perekonomian Kabupaten Batang tahun 2020 mengalami penurunan cukup signifikan yang disebabkan oleh pandemi Covid-19.

Pertumbuhan perekonomian 'mBatang', sebutan untuk kota kecil di Jawa Tengah di bagian utara, ini selama 2020 terkontraksi sebesar -1,29 persen. Ini pencapaian terendah dalam kurun lima tahun terakhir di kisaran 4,9 persen - 5,7 persen.

Sekretaris Daerah (Sekda) Batang Lani Dwi Rejeki, mengatakan, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Batang pada 2019 lalu tercatat di angka 5,39 persen.

“Kondisi inj dipengaruhi oleh adanya pandemi Covid-19 yang merupakan faktor utama penyebab melambatnya ekonomi Kabupaten Batang," ujar Lani Dwi Rejeki menjawab TrustNews.

Meskipun mengalami kontraksi minus 1,29 persen, lanjutnya, namun tetap ada kontribusi yang mendukung pencapaian Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Batang. Kontribusi tertinggi berasal dari lapangan usaha industri pengolahan sebesar 7.368.499,52 juta rupiah (34,08%), lapangan usaha pertanian, kehutanan perikanan sebesar 4.656.020,56 juta rupiah (21,54%) dan lapangan usaha perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor dengan kontribusi sebe- sar 2.746.140,70 juta rupiah (12,70%).

"Melihat kondisi saat ini di Kabupaten Batang yang relatif membaik dalam penanganan Covid-19, diharapkan perekonomian dapat tumbuh positif. Hal ini didukung dengan adanya pengembangan kawasan industri di Kabupaten Batang yang diharapkan dapat meningkatkan perekonomian Kabupaten Batang," ungkapnya.

Dia pun membeberkan strategi untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Batang. Pertama, penguatan sistem Kesehatan melalui vaksinasi selu-ruh masyarakat Batang dan penerapan protokol Kesehatan yang ketat.

Kedua, penguatan daya beli masyarakat melalui peningkatan pemberdayaan masyarakat dan pengendalian inflasi dengan cara operasi pasar, menjaga kestabilan harga, dan mengontrol jumlah dan tata niaga maupun distribusi komoditas, terutama komoditas yang memiliki elastisitas tinggi di tingkat masyarakat.

Ketiga, peningkatan ekspor melalui perbaikan kualitas dan standar produk ekspor; fasilitasi ekspor produk Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah, penguatan kerjasama perdagangan, dan perluasan pasar ekspor.

Keempat, mendorong konsumsi pemerintah dengan mengalokasikan APBD untuk belanja yang diarahkan pada ke-giatan penguatan sistem kesehatan, penguatan sistem perlindungan sosial serta pemulihan perekonomian utamanya pada sektor-sektor yang mempunyai tingkat produktivitas tinggi.

Kelima, mendorong pertumbuhan ekonomi sisi produksi, terutama: sektor manufaktur (industri pengolahan) yang padat karya, perdagangan, dan jasa, dengan memberikan kemudahan kredit modal berbunga rendah, pembinaan usaha, dan mendorong masyarakat dalam penggunaan produk lokal.

Ketujuh, mempertahankan stabilitas di masa Pandemi Covid-19 untuk tetap menjaga kepercayaan investor dan masyarakat di Kabupaten Batang.

Dirinya pun menambahkan, selain strategi menggenjot pertumbuhan, Kabupaten Batang juga menerapkan strategi pemulihan ekonomi dan pembangunan sepanjang 2021. Strategi itu antara lain, pertama kebijakan yang mendorong iklim investasi melalui peningkatan pelayanan perijinan terpadu satu pintu, promosi investasi, pengurangan/penundaaan pembayaran pajak serta penciptaan lingkungan yang kondusif.

Kedua, meningkatkan pariwisata daerah melalui promosi wisata, pengembangan pariwisata berbasis pemberdayaan masyarakat melalui peningkatan peran pokdarwis, fasilitasi pengembangan atraksi dan amenitas wisata (fasilitas di luar akomodasi, seperti rumah makan, restoran, toko cinderamata, dan fasilitas umum).

Ketiga, meningkatkan produksi dan produktivitas sektor pertanian antara lain melalui bantuan alat, pemberian bantuan benih/bibit/ternak/pakan ternak, fasilitasi dan bantuan pemasaran produk, pemanfaatan pekarangan, stimulan cadangan pangan serta intensifikasi pertanian.

Keempat, meningkatkan pemberdayaan UMKM melalui peningkatan akses permodalan bagi Wirausaha dan UMKM, fasilitasi bantuan pemasaran produk UMKM, dukungan sarana dan prasarana UMKM serta pendampingan dan pelatihan usaha/manajemen UMKM.

Kelima, peningkatan penciptaan peluang usaha melalui fasilitasi wirausaha melalui pendampingan, penyiapan SDM, fasilitasi standarisasi mutu dan sertifikasi produk UMKM, kemudahan perijinan usaha serta peningkatan promosi dan pemasaran produk.

"Sekian kelima hal tersebut, kami juga melakukan pengendalian inflasi antara lain melalui operasi pasar. Penciptaan dan perluasan lapangan kerja dengan padat karya di sektor infrastruktur, pelatihan kerja dan bantuan alat, job market serta peningkatan ketahanan pangan," paparnya.

"Peningkatan Ketahanan pangan melalui peningkatan produksi dan produktivitas pertanian, perkebunan, peningkatan produksi hasil peternakan dan perikanan, penyediaan cadangan pangan daerah, dan penyediaan kebutuhan pokok masyarakat miskin," tambahnya.

Sedangkan dalam upaya mengurangi beban pengeluaran masyarakat, strategi yang diterapkan menurutnya, diantaranya akses pendidikan melalui bantuan siswa miskin dan penyelenggaraan pendidikan non formal khususnya untuk anak putus sekolah.

"Penguatan sektor pendidikan dengan pengembangan teknologi dalam rangka pembelajaran virtual, dan pengembangan sistem pembelajaran," ujarnya.

"Adapun akses kesehatan melalui pemberian jaminan kesehatan dan stimulan jamban sehat, stimulan rumah tidak layak huni, bantuan pangan serta bantuan Sosial/subsidi untuk masyarakat miskin," pungkasnya. (TN)