trustnews.id

Tak Lelah Mengolah Energi Terbarukan
F.X. Sutijastoto - Direktur Jenderal EBTKE

Tak Lelah Mengolah Energi Terbarukan

NASIONAL Jumat, 05 Juli 2019 - 11:16 WIB TN

Tak berpuas di B20 hingga puncaknya D100 (green diesel), Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) terus berinovasi menggali energi alternatif mulai dari panas bumi hingga bio-energi.

Canada Place, Vancouver Convention Center West, Kanada, terasa begitu hangat. Di luar gedung, es yang membeku mulai meleleh tanda musim panas segera tiba, saat di gelar pertemuan The Clean Energy Ministerial (CEM10) and Mission Innovation (MI4) di penghujung Mei lalu. Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), F.X. Sutijastoto yang memimpin delegasi Indonesia dalam pertemuan tahunan tingkat menteri itu, mengatakan,  Indonesia memberi perhatian yang sangat serius terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG No. 7, yaitu “Ensure access to affordable, reliable, sustainable, and modern energy for all”. 

Kementerian ESDM, lanjut Toto, melaksanakan program #EnergiBerkeadilan, yang bertujuan menyediakan energi yang berkelanjutan dan terjangkau bagi masyarakat. Dalam mewujudkan #EnergiBerkeadilan, lanjut Dirjen Toto, Indonesia berharap agar CEM dapat menjadi sarana berbagi pengalaman terkait kebijakan dan kepemimpinan, berbagi perkembangan teknologi energi, serta mampu memberikan arah bagi secara global pengelolaan energi di masa datang.

CEM/MI bertujuan mempercepat transisi global menuju energi bersih, membantu menurunkan emisi, meningkatkan keamanan pasokan energi jangka panjang, menyediakan akses energi, dan mempertahankan pertumbuhan ekonomi, serta menunjukkan tindakan nyata sebagai tindak lanjut Paris Agreement. Tema pertemuan tahun ini adalah Accelerating Progress towards A Clean Energy Future. 

Delegasi Indonesia menghadiri Plenary: Clean Power/Electric Future, Smarter Energy Use, Workforce and Communities: A Just and Inclusive Transition, dan CEM Moving Forward serta Roundtable: Mobilizing Investment and Financing dan Recognizing Clean Energy Leadership in Communities and Preparing Workers for a Clean Energy Future, serta side events lainnya. 

Indonesia sendiri, ungkap Dirjen Toto dalam diskusi singkat dengan TrustNews di awal Juni lalu, dalam pertemuan tersebut menjelaskan beragam langkah yang telah dilakukan terkait EBTKE. Satu diantaranya program B20 yang dinilai 100% berhasil dilaksanakan. 
“Program B20 sudah terealisasi 100%. Setelah B20 kita upayakan bisa masuk program B30 yang sedang dalam proses uji tes. Bila berhasil masuk tahap berikutnya yakni green biofuel,” ujarnya.
Sebagaimana diketahui, program pencampuran biodiesel ke Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar sebanyak 20% atau B20 berhasil menghemat devisa sebesar Rp 30,59 triliun pada tahun 2018. Penghematan ini akibat berkurangnya impor Solar. Selama tahun 2018, produksi biodiesel mencapai 6,2 juta kiloliter (KL). Capaian itu setara dengan 108% dari target yang telah ditetapkan di dalam RUEN, yaitu sebesar 5,7 juta kl. 

Selain pengembangan B20 menuju D100, Dirjen Toto juga mengungkapkan perihal pemanfaatan energi panas bumi. Saat ini kapasitas terpasang Pembangkit Listrik Panas Bumi (PLTP) di Indonesia baru mencapai 1.924,5 Megawatt (MW) dari target sebesar 2.058,5 MW. Indonesia menjadi negara terbesar di dunia yang menggunakan panas bumi.

Berdasar data International Geothermal Association, pemanfaatan panas bumi Indonesia berada pada urutan kedua setelah Amerika yang memanfaatkan 3591 ribu mega wat. Posisi ketiga Turki dan New Zeland. Kemudian disusul Meksiko, Italia, Islandia, Kenya dan Jepang. "Di Asia nomor satu. Setiap negara penghasil panas bumi selalu memperbaharui apa yang sudah dilakukan, ditemukan dan dimanfaatkan itu dibentuk dalam sebuah laporan," ucapnya. Potensi panas bumi berada di pulau Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Timur dan Barat, Sulawesi, dan Maluku. Diperkirakan terdapat 342 lokasi.

“Kalau target Rencana Usaha Penyediaan tenaga Listrik (RUPTL) tahun 2025 tercapai, panas bumi itu bisa mensubtitusi 100ribu barel minyak per hari. Sementara potensi energi panas bumi yang dimiliki Indonesia sebanyak 28.508 GWe, masih ada potensi besar lagi yang bisa dikembangkan. Ini akan memperkuat ekonomi nasional dan Indonesia tidak usah impor minyak lagi,” paparnya.

Selain itu, Dirjen Toto, mengungkapkan pengembangan energi terbarukan terus dilakukan sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk menyediakan energi listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT).
“Kita kembangkan bio-energi untuk menggantikan diesel, mengembangkan bioethanol berbasis tanaman sorgum dan rumput gajah sebagai alternatif kompor gas (LPG). Begitu juga dengan pengembangan tenaga surya dengan membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Semua ini merupakan energi terbarukan dengan sumber yang berlimpah sehingga akan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional di samping memperkuat energi kita juga,” paparnya.

Namun diakui Toto, sebagai teknologi baru, EBT memiliki tantangan berat untuk membangun industri. Ini dikarenakan membutuhkan waktu mulai dari hilir hingga hulu. Sebagai perbandingan, membangun industri kelapa sawit membutuhkan waktu 10 tahun, sehingga tidak terlalu sulit untuk merancang program B20. Hanya membutuhkan tes kendaraan.
"Berbeda dengan bio etanol harus dibangun hulunya dengan membudidayakan tanaman sorgum dengan standar tertentu untuk diolah menjadi nira yang juga ada standarnya untuk bisa masuk dalam kilang. Dalam kilang juga ada standarnya, jadi semuan tahapan proses ada standarnya ini yang saya sebut tidak mudah karena membutuhkan waktu,” paparnya.
Untuk diketahui, sorgum adalah salah satu makanan pokok dari jenis rumput-rumputan seperti padi, jagung dan gandum. Tanaman ini mirip tanaman jagung, namun tumbuh lebih tinggi. 

Untuk mewujudkannya, lanjutnya, perlu ada tahapan demi tahapan. Tahap awal tentu membudidayakan sorgum di daerah-daerah dengan menggandeng BUMN dan swasta dengan menerapkan kemitraan pola inti plasma bersama petani. 
Walau secara volume, dibandingkan dengan tebu, sorgum lebih sedikit produktifitasnya untuk menghasilkan bioetanol, namun karena bisa dipanen 3 kali setahun, maka produktifitasnya bisa melebihi tebu dalam setahun. Kelebihan sorgom, bijinya diolah menjadi pangan dan batangnya menjadi bio etanol.
“Membangun pabrik itu gampang, tapi menjadikannya industri yang sustainable membutuhkan waktu. Untuk mewujudkannya dilakukan fase per fase,” pungkasnya.(TN)