trustnews.id

APROBI Sokong Pemerintah Geliatkan Penggunaan Bahan Bakar Nabati
Dok, Istimewa

TRUSTNEWS.ID,. - Biofuels (Bahan bakar nabati) di Indonesia terus bergeliat dan secara konsisten dikembangkan demi mewujudkan lingkungan yang lebih bersih dan berkualitas. Program mandatori biodiesel yang mulai diimplementasikan sejak 2008 dengan kadar campuran biodiesel sebesar 2,5% secara bertahap berkembang baik dari tahun ke tahun. Di tahun ini, kita semua bersiap menyambut B40 sambil terus memaksimalkan pemanfaatan B35.

Tiga tahun sebelum program mandatori biodiesel diterapkan, beberapa perusahaan yang memproduksi biodiesel dan bioetanol mulai bermunculan. Mereka memiliki tujuan yang sama, yaitu turut mendukung program Pemerintah dalam mengembangkan dan menggunakan Bahan Bakar Nabati sebagai bahan bakar terbarukan.

Agar dukungan menjadi lebih efektif, perusahaan-perusahaan tersebut sepakat untuk membentuk Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) di akhir tahun 2006. Sejak itu, APROBI terus bekerja sama dengan Pemerintah dan berbagai pihak untuk mengupayakan pengembangan Bahan Bakar Nabati di Indonesia serta memperjuangkannya di forum Internasional.

“Program-program pengembangan bahan nabati yang kami kembangkan dalam APROBI banyak sekali manfaatnya, terutama terkait untuk menciptakan lingkungan yang bersih melalui pengurangan CO2 . Selain itu, program yang kita jalankan juga mengarah bagi kesejahteraan para petani sawit, upayanya dengan membantu menjaga harga sawit dan kehidupan petani. Intinya program yang kami kembangkan disini sangat luar biasa sekali,” tutur Catra de Thouars, Wakil Ketua Umum Bidang Promosi dan Komunikasi APROBI kepada Trustnews dalam kesempatan wawancara eksklusif belum lama ini.

Diakuinya, semua program yang dikembangkan APROBI merupakan bagian dalam upaya mendukung pemerintah guna pengembangan dan penggunaan bahan bakar nabati sebagai bahan bakar terbarukan di tanah air.

“Kami selalu berupaya untuk bisa memenuhi target-target yang ditetapkan oleh pemerintah, terutama dalam penyerapan biodiesel setiap tahunnya. Kami semua pengurus berupaya agar target yang ditetapkan itu bisa tercapai dengan baik,” katanya.

Untuk setiap tahunnya target penyaluran yang harus dicapai mencapai 13 juta kilo liter dengan penyerapan pada titik angka yang sama. Namun disayangkan jumlah penyerapannya masih bersifat fluktuatif, khususnya di tahun 2023 ini. Tapi Catra meyakinkan, hingga Oktober 2023 tercatat penyerapannya mencapai 10,5 juta kilo liter, sedangkan pada November ditargetkan mencapai angka 12 juta liter.

Diakuinya, situasi ini terkendala lantaran suplai biodisel pabrik rata-rata ada di wilayah Sumatra untuk dikirim ke daerah Timur Indonesia. Apalagi, di wilayah Timur, pabriknya belum terlalu banyak dan suply harus dilakukan dengan menggunakan kapal. Belum lagi jika terkendala dengan cuaca buruk dan sebagainya di laut, sehingga situasi ini akan mempengaruhi pengiriman. “Situasi inilah yang kerap kami hadapi, agak sulit juga kalau kita mengirim logistik dengan menggunakan kapal, karena dibutuhan persiapan dan antisipasi khusus jika terjadi cuaca buruk,” katanya.

Saat ini jumlah pabrik biodiesel di Sumatra terdapat 13 buah, sedangkan di Kalimantan Timur terdapat 2 pabrik dan Sulawesi Utara baru terdapat 1 pabrik. Ditahun 2023 ini, sudah mulai dibangun pabrik-pabrik baru, Dan di tahun 2024 kemungkinan akan ada penambahan pabrik baru lagi di wilayah Sumatra dan Jawa. Semoga dengan penamabahan ini, kapasitas produksi akan terus bertambah.

Ditambahkan Catra, APROBI berharap pemerintah menggalakkan kegiatan eskpor biodiesel ke luar negeri, sebagai bentuk pergerakan industri hilirisasi di tanah air. Daripada yang di ekspor CPO-nya akan lebih baik yang dikirim ke luar negeri sudah dalam bentuk produk jadi seperti biodiesel.

Bahkan, pihaknya juga tengah menyiapkan crude gliserin untuk siap ekspor, yang nantinya bisa di murnikan menjadi refined gliserin, yang bisa digunakan untuk bahan kosmetik dan obat-obatan. “Jadi program biodisel ini mendukung hilirisasi. Ini dilakukan sebagai upaya untuk memperkuat integrasi. Hasilnya sangat baik guna meningkatkan nilai tambah pendapatan negara. Daripada kita ekspor bahan baku lebih baik kita ekspor hasil produksi,” tambahnya meyakinkan.